Pupuk NPK Organik Cap Rumpun Bambu

Pupuk NPK Organik Cap Rumpun Bambu
Produksi KSU Karya Bangsa Berdikari

Sampel Pupuk

Sampel Pupuk
Sampel pupuk kemasan 50 kg

Sampel Pupuk

Sampel Pupuk
Bentuk tabur, Warna hitam kecoklat coklatan

19 November 2009

PROGRAM GO ORGANIK 2010 Gerakan Mempercepat Pertanian Organik

GO ORGANIK 2010 adalah program yang dicanangkan pemerintah untuk menunjang program ketahanan dan kemandirian di bidang pertanian. Dengan digulirkannya program pertanian tersebut, berdampak kepada sektor swasta sebagai pelaku usaha untuk turut serta berpartisipasi mensukseskan ketahanan dan kemandirian di bidang pertanian.

Menurut Satria Khresna Wardhana, Direktur PT. Greenland Niaga Indonesia produsen Pupuk Organik Cair SUPERFARM, sebenarnya pola pertanian organik sudah tumbuh lama didasari oleh kesadaran masyarakat petani akan faktor produktivitas lahan, faktor ekonomis, keseimbangan ekosistem, dan juga faktor kesehatan. Banyak upaya yang dilakukan pemerintah, pelaku industri pertanian dan khususnya petani untuk kembali ke pola pertanian organik, namun memang dirasa perlu untuk membuat suatu gerakan agar program organik dapat berjalan lebih cepat dan terarah. GO ORGANIK 2010 adalah momentum dimulainya pemasyarakatan pertanian organik dalam skala luas.

Dengan dicanangkannya GO ORGANIK 2010 oleh pemerintah, maka diharapkan berkembangnya seluruh industri di sektor pertanian. Salah satunya adalah para pelaku industri Pupuk Organik. Skala industri para pelaku pupuk organik bukan hanya berskala besar, tetapi juga skala rumah tangga. Dengan memanfaatkan limbah dan bahan organik di lingkungan maka akan menghasilkan nilai tambah ekonomis dan sosial budaya. Karena itu pertumbuhan industri pupuk organik seharusnya didukung dan dikembangkan.

Satria mengingatkan bahwa dengan pola pertanian organik ini bukan berarti anti terhadap pupuk kimia dan produk produk sintetis lain. Sebab tidak dipungkiri bahwa tanah memerlukan kandungan hara yang terdapat pada pupuk kimia, namun harus disadari pula bahwa sebenarnya banyak sekali bahan kimia alami yang bisa dimanfaatkan dari alam bumi tercinta ini.

Misalnya memanfaatkan jerami hasil panen, karena mengandung unsur-unsur pupuk alami NPK, untuk N berkisar 1%, P berkisar 0.7%, dan K berkisar 0.9% serta unsur mikro lainnya. Berarti bila petani mampu memanfaatkan jerami hasil panen tersebut, katakan dari 1 ha panen terdapat 10 MT jerami dan kemudian diolah menjadi pupuk organik / kompos menghasilkan 40% pupuk organik, berarti petani sudah memasukkan kembali unsur hara yang dibutuhkan lahan dengan kandungan sebesar 40 kg unsur (N) Nitrogen murni setara dengan 89 kg urea, 28 kg unsur (P) Phosphat murni setara dengan 78 kg SP36 dan 36 kg unsur (K) Kalium setara dengan 60 kg KCl, beserta unsur mikro lain yang bermanfaat. Jadi dengan teknologi petani dapat menggunakan pupuk kimia lebih terkontrol.

Mengenai pestisida, insektisida dan produk sintetis lain untuk pembasmi hama dan penyakit adalah baik sebagai alternatif untuk mengatasi permasalahan gangguan hama dan penyakit. Namun diharapkan untuk menggunakan secara lebih bijaksana. Banyak alternatif bahan organik yang dapat digunakan sebagai bio pestisida dengan memanfaatkan tumbuhan pestisida nabati; mahkota dewa, kunyit, laos, tembakau dan tumbuhan bio pestisida lain. Dengan perlakuan pengendalian hama secara organik dapat menjaga keseimbangan ekosistem dan berdampak pada faktor kesehatan dan kualitas produk pertanian.

Menurut Satria ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pola pertanian organik dan teknologi pertanian organik yaitu :
1. Tanah yang harus dikembalikan kesuburannya
Perlu diberikan decomposer, berfungsi untuk menekan pertumbuhan bakteri yang merugikan/pathogen dan meningkatkan aktifitas biota tanah yang menguntungkan, menetralisir racun pada tanah akibat penggunaan produk produk sintetis, menguraikan bahan organik menjadi senyawa organik yang mudah diserap dan sebagai starter untuk melapukkan bahan organik/pembuatan pupuk organik.

No comments: