Pupuk NPK Organik Cap Rumpun Bambu

Pupuk NPK Organik Cap Rumpun Bambu
Produksi KSU Karya Bangsa Berdikari

Sampel Pupuk

Sampel Pupuk
Sampel pupuk kemasan 50 kg

Sampel Pupuk

Sampel Pupuk
Bentuk tabur, Warna hitam kecoklat coklatan

21 November 2009

TIDAK SEHARUSNYA PETANI BERJUANG SENDIRI

Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang berarti sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani dan mengandalkan kehidupannya dari pertanian. Melihat kondisi alam yang kaya akan sumber daya alam dan sangat subur tentu kita berharap para petani di Indonesia adalah petani yang serba berkecukupan secara ekonomis. Tetapi harapan tinggal harapan, karena ternyata sebagian besar petani Indonesia adalah petani miskin dengan penghasilan jauh di bawah UMR. Kenapa hal ini bisa terjadi tentu patut kita pikirkan bersama untuk mencari solusinya.

Beberapa hal yang berperan terhadap semakin terpuruknya kehidupan petani kita antara lain adalah semakin berkurangnya lahan-lahan pertanian yang subur karena berubah fungsi menjadi areal pemukiman, perindustrian dan fasilitas umum; selain itu juga karena terjadinya lonjakan jumlah penduduk yang berakibat kepemilikan mereka terhadap lahan pertanian semakin berkurang. Selain hal-hal tersebut di atas kondisi cuaca global dan kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh perseorangan maupun kolektif juga ikut berperan. Kondisi yang tidak mendukung ini semakin diperparah oleh berbagai kebijakan pemerintah Indonesia yang sering tidak berpihak pada sektor pertanian ini. Seringkali para petani harus berjuang sendirian untuk memperoleh sarana produksi pertanian dan menjual hasil panennya. Kita sudah sering mendengar mengenai kelangkaan pupuk dan meskipun tersedia dengan harga yang semakin mahal, begitu juga dengan obat-obat pembasmi hama dan penyakit yang sangat mahal dan harus diakui bahwa sebagian besar masih harus diimpor, begitu memasuki masa panen petani harus mengalami kekecewaan lagi karena harga anjlok dan mereka harus membayar hutang ke para tengkulak atau para juragan yang memberi pinjaman untuk sarana produksi pertanian maupun untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Walhasil petani hanya membawa sedikit uang ke rumah bahkan kadang-kadang masih berhutang dengan jaminan rumah atau lahan mereka. Kejadian ini akan terus terjadi berulang-ulang seolah-olah menjadi lingkaran setan. Hal ini terjadi karena para petani hanya mampu bertani untuk memenuhi kehidupannya jadi mereka akan terus terikat pada lingkaran tersebut.

Peran pemerintah maupun pihak-pihak lain masih sangat diperlukan untuk meningkatkan kehidupan para petani. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan melindungi para petani dan kegiatan pertanian melalui kebijakan-kebijakan yang memberikan kestabilan harga pada saat panen, mampu menyediakan sarana produksi (benih, pupuk dan pestisida) yang berkualitas dan terjangkau harganya. Selain itu masih diperlukan juga para tenaga lapang yang senantiasa memberikan pembinaan di tingkat petani karena seperti kita ketahui sebagian besar para petani merupakan petani tradisional yang belum mendapatkan sentuhan teknologi sama sekali. Tentunya akan lebih bijaksana lagi apabila pemerintah juga mulai berperan secara nyata dalam mengembangkan teknologi pertanian ramah lingkungan sehingga pengembangan sektor pertanian tidak hanya mengejar target peningkatan kuantitas tetapi juga meningkatkan kualitas hasil yang ramah lingkungan.

Saat ini pemerintah melalui Departemen Pertanian telah mencanangkan program go organik 2010. Diperlukan suatu kerja keras dan kesungguhan dari pemerintah agar program ini dapat berjalan dengan lancar dan tepat sasaran dan tidak hanya bersifat slogan saja. Masalahnya adalah apakah para petani sudah siap dan mampu mengikuti program tersebut mengingat pemerintah sebelumnya selalu mengedepankan peningkatan produksi pertanian melalui aplikasi pupuk dan pestisida kimia secara terus-menerus. Dalam hal ini diperlukan kerja sama dan kerja keras dari berbagai pihak agar dapat merubah kebiasaan petani menggunakan pupuk dan pestisida kimia untuk beralih ke bahan-bahan ramah lingkungan. Tentu saja petani tidak bisa mengerjakan program besar ini sendirian, diperlukan kekonsistenan dari pemerintah sehingga petani-petani yang senantiasa hidup serba kekurangan ini tidak selalu jadi bulan-bulanan proyek penguasa. Selain pemerintah masyarakat melalui LSM juga dapat berperan serta untuk menyukseskan program ini.

No comments: